Sudah Hampir setahun penangan lumpur panas yang diakibatkan oleh explorasi dari PT LAPINDO BRANTAS tidak kunjung membawa hasil yang baik bagi masyarakat sekitar,bahkan pada saat ini walaupun ketinggian tanggul sudah di tambah hingga hampir mencapai 20 meter tetapi masih bisa jebol dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar yang di alami oleh masyrakat dan pengusaha di sekitarnya, janji untuk memberikan ganti rugipun terkesan lambat dan terasa penuh rekayasa hingga masih ada pemilik tanah yang sampai saat ini masih belum memerima haknya karena masih dalam proses verifikasi tim penilai. Tetapi bagaimana dengan pengusaha yang terkena dampak langsung dari luberan lumpur tersebut yang merendam kawasan pabrik merekapun tidak jelas penanganannya. Pemerintah terkesan mau menalangi dana yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut dan lamban dalam beraksi hingga masalahanya menjadi berlarut-larut walaupun sudah mengeluarkan biaya besar dan di jadikan sebagai bencana alam dan bukan kelalaian karena pekerjaan eksplorasi.Banyak diantara para pengungsi yang berlebaran ditempat pengungsian sementara seperti tidak ada yang perduli dengan nasib mereka.
Apakah pemerintah serius untuk menanganinya atau dijadikan bahan untuk pemilihan presiden mendatang. Suarakan opini anda semoga pemerintah bisa lebih serius mengurus rakyatnya yang terkena dampak langsung dan tidak langsung dari lumpur ini.Baru-baru ini para pengusaha yang terkena dampak lumpur melakukan modifikasi usaha dengan menempatkan atau merelokasi usaha mereka di daerah lain seperti malang,surabaya dan jakarta dan lainya untuk merangkul kembali para pembeli mereka.Para perngrajin sepatu dan sandal di sidoarjo memindahkan unit usaha merek ke trowulan di pusat perkulakan sepatu. sunnguh suatu hal yang sangat disayangkan.(kompas 18/10/2007)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment